Tragedi Badminton

Masa SD, sungguh, saya ingin mengulangnya. Masa saat cerita unik menggelitik mewarnai kehidupan saya. Salah satunya yang paling saya ingat adalah ini.

Saya anak baru di SD saya, SDI Al Huda. Kedua orang tua menurut.i keinginan saya untuk pindah ke sekolah kota. Awalnya saya sekolah di sebuah SD di kabupaten.

Menjadi anak baru di kelas 3 semester 2, alhamdulillah tak menyulitkan saya untuk sosialisasi. Alhamdulillah, Allah memberikan teman-teman yang sangat terbuka. Tak sampai setengah tahun, saya sudah bisa bersatu dengan mereka.

Naik ke kelas 4, teman-teman menunjuk saya untuk menjadi ketua kelas. Terpaksa saya harus menerima karena desakan wali kelas saya. Oke saya terima. Namun, ternyata menjadi ketua kelas itu tidaklah mudah. Harus bertanggung jawab atas apa yang dia pimpin.

Waktu itu Indonesia lagi demam-demamnya Thomas-Uber Cup. Saya dan teman-teman sekelas ngga ketinggalan juga donk buat menyemarakkan πŸ˜€ . eits, tidak, kami tidak pergi ke gelora bung karno ato apalah. Tapi kami ikut berpartisipasi. Cukup di dalam kelas, kami bermain badminton. Awalnya hanya beralatkan buku tulis dan kertas yang dibulatkan dan sebuah garisan papan untuk net. Tapi kertas tersebut bermetamorfosis menjadi sebuah cock beneran πŸ˜€ . praktis, acara ini membuat kami betah di kelas dan tak pernah keluar kelas untuk bermain sedangkan kelas lain bermain sepak bola di halaman πŸ˜€ .

Suatu ketika, saat giliran saya tampil, ada sebuah bencana.

Kebetulan saya berpasangan dengan andik kalau ngga habibi kalau ngga muhammad (maaf saya lupa πŸ˜€ ) . serunya pertandingan kami, membuat kelas sangat gaduh. Teman-teman bersorak bak melihat live pertandingan thomas-uber cup. Saya bergaya sok-sok an tampil sebagai atlit profesional. Tiba-tiba, ketika saya sedang berusaha mengembalikan bola, bola dengan tidak diharapkan melambung ke atas dan cukup tinggi, dan, CEP!!!, dia mancep (apa ya bahasa indo nya πŸ˜€ ) di kipas angin yang sedang berputar. Langsung saja, kelas serasa di serang badai salju serbuk kayu. Saya tercengang melihat tragedi itu begitu pula teman-teman sekelas. Tiba-tiba wali kelas secara mengejutkan membuka pintu dan mendapati keadaan kita yang β€œmlongo” . pastilah, sekelas kena semprot. Dibahas mulai A – Z, hampir satu jam pelajaran, wali kelas kebakaran jenggot. Saya, saya target yang tak bisa lepas. Wali kelas memarahi saya dan saya hanya bisa diam. Ya, ini ulah saya dan tanggungjawab saya πŸ˜€ . untungnya wali kelas marahnya cuman sebentar dan teman-teman saya sama sekali tak marah pada saya, malah dianggap kesalahan bersama πŸ˜€ wkkwkw…

Setidaknya, peristiwa itu membuat peninggalan yang bertahun-tahun πŸ˜€ . kipas angin kelas rusak. Sebenarnya tidak rusak, hanya saja kalau dinyalakan, badai salju itupun akan kembali menghantam πŸ˜€ . siapa mau? Ya silakan nyalakan πŸ˜€ . untung banget saya, orang tua saya tidak dipanggil atas tragedi ini πŸ˜€ wkwkwkkwkwk…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s