Stay (Mianhamnida)

β€œAda apa dengan kita?

Kenapa kita hanya saling menatap dan kemudian saling berpaling?

Ke mana semuanya pergi?

Obrolan itu, canda itu, tawa itu?

Apakah semuanya pergi dan tak akan kembali?

Aku merindukanmu, merindumu kembali menciptakan tawa untukku,

merindumu dengan segala caramu yang mampu membuang semua penatku,

merindumu bercerita yang membuatku terhibur.

Aku rindu semua kenangan denganmu.

Tak bisakah aku kembali ke waktu itu dan aku froze semuanya?

Aku ingin kita seperti dulu.

Berjalan di jalan yang sama,

Berbincang pada titik yang sama,

Dan berkhayal pada masa depan yang sama.

Aku merindumu

Tanpa aku tahu sebab,

Mengapa aku begitu merindumu…”

Tulisan itu saya ketik 23 Mei 2013. Saya ketik di layar hape saya, saya masukkan draft. Saya tak punya nyali untuk mengirimnya. Gengsi ini terlalu besar. Ego ini terlalu menguasai saya. Terlebih, ketakutan saya telah menahan saya. Ya, saya takut, saya takut tak tahu jawaban apa yang akan saya berikan jika dia bertanya maksud saya meski saya yakin, dia akan paham.

 

Tulisan itu saya ketik ketika diri ini begitu merasa β€˜jauh’ satu sama lain. Saya tak pernah luput dari pemikiran tentang ini. Bertanya tanya selama berhari-hari ini, bisa dibilang berbulan bulan mungkin. Entah, begitu berat saja bagi saya mendapati ini.

 

Sedangkan tulisan ini saya ketik ketika saya telah tahu jawaban dari pertanyaan saya selama ini. Tentang kerenggangan kami.

β€œMaafkan untuk kata yang membuat luka”

Saya tidak pernah suka jika canda itu menyangkut β€˜orang’ . satu, saya cuman tidak pernah suka itu. silakan olok saya seperti apa, asalkan jangan tentang orang itu. silakan olok saya tentang kekurangan saya, silakan. Mungkin saya akan berontak, tapi bukan berontak marah. Tapi tolong jangan orang itu. hargai saya.

β€œMaafkan kemarahan yang menimbulkan dengki”

Maaf jika saya terlalu berlebihan. Maaf saya tak bisa mengertiΒ  perasaanmu karena kamu begitu pintar menyembunyikannya. Asalkan kamu tahu, saya tidak pernah nyaman dengan keadaan ini.

I was stupid

I was an idiot

It’s too late for me to regret it

I know that I can’t turn back the hands of time

I know that it’s my fault, I am really sorry

I couldn’t tell you then but I am really sorry

So now I come to beg you for forgiveness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s