Housewife?

Teringat pertanyaan teman saya beberapa waktu lalu. Dia tahu, saya berobsesi sekali dengan karir dan pendidikan. Dia juga tahu betapa saya ingin sekolah setinggi-tingginya di tempat terbaik jagat ini, Madinah University dan Harvard University. Saya yakin, banyak orang mempunyai cita-cita untuk sekolah di sana. Saya, saya adalah satu dari banyak orang tersebut. Dia juga tahu, karir apa yang akan saya pilih nanti. Menjadi Gubernur atau Deputi Gubernur BI adalah cita-cita saya. Cita-cita yang mengantarkan saya untuk studi di jurusan yang sedang saya perjuangkan untuk kesuksesan, Ilmu Ekonomi UGM. Begitu juga dengan cita-cita menjadi dosen. Ya, dia tau itu semua dan memang harus tahu. Kami berdua sejak dari kecil bersahabat. 10 tahun kami bersahabat, bukankah sudah semestinya mengetahui tabiat masing-masing?πŸ˜€

Pertanyaan yang simple. Tapi jawabannya tidak sesimple itu. β€œBagaimana jika suamimu memintamu menjadi ibu rumah tangga dengan pendidikan tinggimu itu?”. kurang lebih begitu dia bertanya. Simple kan?

Setahu saya, seorang istri harus menuruti suami, begitulah sepenggal jawaban saya. Dia tahu, jawaban itu mengisyaratkan bahwa saya akan jadi ibu rumah tangga. Kemudian dia bertanya, β€œApakah tidak sia-sia studimu? Studi setinggi langit, tapi hanya jadi ibu rumah tangga?” . hati saya sempat mengamini pernyataan dia. Ya, bukankah sia-sia. Mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya sekolah hanya akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga. Lalu, akan dikemanakan cita-cita saya?

Keluarga kami sangat menghargai wanita karir. Namun, syukur alhamdulillah, keluarga kami berdua mempunyai toleransi yang tinggi. Mereka tidak pernah mengolok wanita rumahan alias ibu rumah tangga. Tapi bagaimanapun, saya tahu, kedua orang tua saya akan sangat menginginkan saya menjadi wanita karir. Alasannya? Diterima oleh akal kok. Paling tidak, seorang istri yang berkarir tidak akan tergantung sepenuhnya dengan suami, atau, bisa bantu suami lah meringankan suami lah.

Namun, itu semua kembali pada kodrat alamiah seorang wanita. Tugas mencari nafkah adalah tugas seorang kepala rumah tangga, para suami, para ayah, dan para pria. Merekalah yang ditugaskan untuk menanggung anggotanya, istri dan anak-anaknya. Kodrat wanita adalah mendidik anak-anak dan mengabdi pada suaminya. Setahu saya begitu dan lingkungan saya menanamkan kepada saya seperti itu meski mereka, sekali lagi saya katakan, sangat menghargai wanita karir.

Studi tinggi dengan akhir menjadi ibu rumah tangga, tidaklah masalah. Justru seorang wanita harus berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas. Seorang wanita harus lebih kritis dan mempunyai intelektual serta etika yang tinggi. Kenapa harus begitu? Karena dia adalah tarbiyah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu, akan menjadi guru pertama anak-anak mereka. Betapa keberhasilan seorang anak kelak ditentukan oleh tarbiyah dari ibunya. Saya jadi teringat dengan teman saya. Sedari SD memang dia terlihat sangat menonjol. Dia mampu bergaul dengan siapapun dan prestasinya memang luar biasa hingga sekarang. Dia pernah bercerita tentang ibunya. Dari sanalah saya tahu, ibunya benar-benar menjadi guru terbaiknya. Satu yang paling bikin saya tersentuh ketika dia menceritakan dibalik kesuksesannya, ketika dia berjuang dalam lomba dan ujian, ibunya selalu mengadahkan tangannya pada Allah selama dia berjuang. Bukan omong kosong karena saya juga tahu sendiri, bagaimana ibunya benar-benar hebat dibalik kehebatannya.

Kembali ke kodrat wanita. Sifat dan sikap anak juga terpengaruh dari sifat dan sikap pendidiknya. Pastilah seorang ibu harus hebat jika ingin anaknya bisa menjadi terhebat. Terkait dengan pertanyaan pertama teman saya, bagaimana bisa saya melakukan hal yang tidak diridhoi Allah? Jika hal itu memang bisa membuat suami ridho, why not? Intinya seperti itu. saya pernah mendengar, surga seorang wanita bisa berpindah tempat. Ketika dia masih lajang, surga mereka ada pada ibu dan bapak mereka, terutama ibu. Namun, ketika dia sudah menikah, surga mereka ada pada suami mereka. Hal ini berbeda dengan pria, surga mereka tetap, ada pada ibunya.

Tulisan ini adalah opini pribadi saya. Bisa diterima dan bisa dicela. Bagi saya, ibu rumah tangga adalah karir terbaik seorang wanita, seorang ibu, dan seorang istri.

Kemudian jika banyak yang terheran dengan pemikiran saya, kenapa terlalu dini membicarakan rumah tangga dan pernikahan? Umur saja masih umur ingusan. Jawaban saya :

Tidak banyak orang siap untuk menikah. Ada orang yang siap untuk menikah.

Ada orang yang siap menikah namun tidak siap menjalankan rumah tangga. Ada orang yang siap menjalankan rumah tangga tapi tidak siap untuk menikah.

Kebanyakan, orang yang siap menikah namun tidak siap menjalankan rumah tangga akan mengalami perceraian, kekerasan, atau masalah rumah tangga lain. Begitu pula dengan orang yang siap menjalankan rumah tangga tapi tidak siap untuk menikah, dia akan menjalankan praktek kumpul kebo.

Saya tidak ingin menjadi kedua golongan orang tersebut. Saya ingin menjadi orang yang siap menikah dan siap menjalankan rumah tangga. Dan, itu tidak bisa terjadi dengan instan. Ada persiapan untuk memantaskan diri dengan itu semua. Kenapa menikah? Karena dien kita akan utuh dan itu SUNAH ROSUL.

2 thoughts on “Housewife?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s