Simple Way(s) : Cara (Saya) Untuk Bangkit

Tak bisa menyangka saya menulis topik ini setelah beberapa hari belakangan, bisa dibilang hampir sebulan, saya tidak tahu harus menulis apa. Pikiran serasa penuh dengan kata-kata namun tangan dan bibir tak bisa menerjemahkannya dengan baik. Akhirnya jadi vakum buat nulis.

Yap, akhir-akhir ini kondisi memang sedikit tidak bersahabat dengan saya. Bukan tentang apapun, tetapi semua itu disebabkan oleh diri saya sendiri. Ya, saya belajar untuk tidak mencari kambing hitam selain diri saya untuk semua hal. Saya teringat dengan apa yang ditulis dosen saya, Prof. Suwardjono, yang kemudian saya tempel di samping cermin kamar kos saya. Begini tulisannya : β€œ….. SAYA TIDAK AKAN MENCARI KAMBING HITAM KARENA KAMBING HITAM ITU MEMANG TIDAK ADA KECUALI DIRI SAYA SENDIRI.” Tak hanya Prof. Suwardjono, kakak saya (suami mbak saya) juga pernah berkata, kurang lebih begini, β€œJANGAN SALAH KAN ORANG LAIN DAN KONDISI, LIHAT BAGAIMANA CARA KITA UNTUK MENYIKAPI ITU SEMUA.” Artinya, memang semua itu tergantung dari diri kita. Jika merasa ada masalah atau orang lain yang menghambat apa yang kita inginkan, koreksi diri, bagaimana cara diri ini menghadapinya? Apakah sebenarnya diri inilah penyebab hambatan itu muncul? Cukup begitulah cara saya untuk mengevaluasi diri.

Kembali pada kejadian akhir-akhir ini. Sebenarnya saya abis melewati masa-masa yang tidak pernah saya inginkan namun cukup sering untuk menghampiri saya. Hehehe, β€œdia” muncul karena kemauan saya sebenarnya, hasil evaluasi diri. Dan mulai sekarang, saya tidak menginginkannya untuk kembali menyapa saya, hehehe…

Apa yang membuat saya kembali pada posisi tegak (bisa dibilang juga menuju posisi tegak) setelah posisi saya seperti icon Kota Pissa di Italy , Menara Pissa ._. hehehe… banyak dan salah satunya adalah sebuah kalimat dari orang yang saya tak menyangka bisa mengatakan itu untuk saya, untuk saya pribadi. Saya mengenal orang itu dan meskipun sering menguatkan saya , membuat saya tertawa lepas, tidak menyangka dia akan membuat kalimat itu untuk saya dan kalimat itu justru selalu muncul setiap saat sejak saya terima 5 November 2013 lalu di seberang Stasiun Jatinegara, Jakarta, dan menjadi salah satu alat untuk selalu menegakkan posisi diri. Jazakallahu khoiron katsiron, barokallahu fik, semoga Allah selalu memberkahi dia di mana pun dia berada…

Menyentuh, membaca, dan mengerti arti dari Kitab Alquran, ternyata juga begitu ampuh untuk mengembalikan posisi seperti Menara Eiffel yang kokoh dan tegak. Kemarin membaca surat ke 11 dan membaca tentang cerita Nabi Nuh dalam menyerukan keindahan. Ya, sangat membuat saya kembali untuk menikmati posisi ini. Apapun itu, kembali pada Allah adalah cara terbaik pada kondisi apapun.

Ada banyak cara untuk kembali bisa tegak. Cara itu terkadang ada di sekitar kita namun terkadang kita tidak pernah sadar bahwa β€œmereka” adalah cara terbaik untuk membantu kembali menjadi menara EiffelπŸ˜€ . Cara itu adalahΒ Mengenal diri dan Mengenal rasanya indahnya bersama Tuhan…

391345_501023506579156_1383035881_n

 

4 thoughts on “Simple Way(s) : Cara (Saya) Untuk Bangkit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s