Pernikahan

Pernikahan…

Banyak orang menganggap aku terlalu dini untuk menyebutnya.

Banyak orang bilang aku masih terlalu muda untuk memikirkannya.

Banyak orang berpikir aku terlalu jauh untuk mempersiapkannya.

Pernikahan…

Aku memandangnya sebagai sesuatu yang agung.

Aku memandangnya sebagai sesuatu yang sakral.

Aku memandangnya sebagai sesuatu yang indah.

Pernikahan…

Ketika aku membicarakannya

Banyak orang yang mengeryitkan mata

Mereka berkata, β€œBelajarlah sin cos tan dulu. Jangan terlalu jauh.”

Tapi aku menjawab, β€œApa salahnya mempersiapkan sejak awal?”

Pernikahan…

Aku berpikir, aku harus belajar tentang ini mulai sekarang.

Tapi cara ku salah.

Tak seharusnya aku belajar dengan sesama, melainkan dengan Allah.

Cara ku salah.

Tak seharusnya aku mengabdikan ilmuku tentang ini sekarang, melainkan nanti pada orang yang tepat yang ku sebut suami, bukan pacar.

Pernikahan…

Ketika aku begitu mendambakannya, banyak orang menertawaiku.

Kata mereka,”Kejarlah duniamu dulu, kejarlah bekal, kejarlah ilmu. Pernikahan dapat membuatmu terseok-seok dalam mendapatkannya.”

Aku menjawab, β€œApa salahnya menikah ketika kuliah? Bukankah menikah membuat hati lebih tentram? Bukankah menikah adalah sebuah kesempurnaan ibadah? Untuk rejeki, bukankah rejeki orang yang telah menikah akan dilapangkan? Bukankah Allah telah menjaminnya?”

Suatu hari, seseorang pernah bertanya padaku, β€œSudah punya pacar?”

Aku menjawab, β€œTidak.”

Beliau kembali bertanya padaku, β€œKenapa tidak? Berkatalah β€˜belum’ .”

Saya bertanya, β€œMengapa?”

Beliau menjawab, β€œJika kau sudah pernah pacaran di masa mudamu, masa tua, kau tak akan pacaran. Pacaran ketika tua lebih berbahaya.”

Pendapat itu kemudian di amin i oleh teman-temanku.

Namun aku punya pikiran lain, β€œPacaran tak menjamin tentram tidaknya suatu pernikahan. Pacaran tidak menjamin satu sama lain mengetahui pasangannya. Pacaran bukanlah jalan untuk menuju sesuatu yang ku sebut β€˜agung’ itu. Pacaran hanya akan merusak, merusak hati, pikiran, lisan. Tentang pacaran di masa muda dan tua, pacaran di masa muda tak menjamin seseorang tak akan selingkuh ketika mereka sudah menikah. Lihatlah, tak perlu ku tunjukkan bukti-buktinya karena sudah sangat menjamur di muka bumi ini. Pacaran hanyalah jalan untuk kita berzina. Bukankah zina itu dilaknat? Sedangkan orang yang belum pernah mengalami pacaran tak menjamin kehidupan pernikahannya akan terseok. Lihatlah, mungkin belum banyak orang tahu, bagaimana Fatimah dan Ali? Mereka saling mengagumi namun mereka mampu menjaga hijab masing-masing, dan apa yang terjadi, kehidupan pernikahan mereka sangat bahagia hingga mereka dikaruniai putra bernama Hasan. Bila Anda tidak ingin contoh dari keluarga nabi, mari, saya masih punya contoh dari yang β€˜sederajat’ dengan kita (bukan keluarga nabi). Pak lek dan bu lek saya. Mereka tak pernah berpacaran. Mereka hanya dikenalkan dalam wadah yang bernama β€œta’aruf”. Hingga kini, lebih dari 17 tahun menikah, kehidupan mereka sakinah mawaddah warrohmah serta dikaruniai dua anak yang sholeh sholehah. Mau bukti apa lagi? Masih banyak dan aku tak bisa untuk menguraikannya satu per satu.”

Pernikahan…

Dalam pandanganku, adalah sebuah ikatan yang agung, di mana setiap detik kita bisa bernilai ibadah.

Pernikahan…

Aku tak pernah mempermainkan keberadaannya…

Pernikahan…

Aku tak pernah menganggap sebelah mata…

Pernikahan…

Aku tak pernah menganggap ia hanyalah sebuah peristiwa…

Karena pernikahan…

Adalah sesuatu yang agung…

Dan aku percaya

Setiap insan akan sangat mendambakannya…

Pernikahan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s