Goa Cina

Aaaaaaaahhh, yeah I did it! Pengen banget teriak and say β€œCongratulation, Betty, you did it! Ngga apa sih, cuman pengen kasih apresiasi ke diri sendiri karena telah berani nyetir Kediri-Goa Cina, Malang Selatan PP. Yuhuuuu, skill menyetir saya langsung naik drastis *agak lebay ngga apa yaπŸ˜€ * . okaay, saya mau share tentang liburan saya bersama keluarga kedua saya, PRADA.

H-1 pemberangkatan, semua pada galau. Tiba-tiba supir utama yang menawarkan diri mundur secara tiba-tiba hingga akhirnya posisi supir mengalami vacum of power *lebay*. Hampir saja saya kira liburan ini ngga jadi dan hanya wacana saja. Sampai suatu ketika, (mantan) kakak kelas saya mem-BBM saya bertanya apakah saya bisa menjadi supirnya? Saya bilang, tidak berani. Kemudian saya ditanya lagi, kalau dari Kediri-Malang berani? Saya jawab, in sya Allah berani. Trus dia kemudian merayu saya dengan bilang katanya Malang-Goa Cina hampir sama jalannya. Kemudian saya pun bimbaaaang. Trus tak berapa lama kemudian teman saya ganti yang BBM, menanyakan hal sama. Saya jawab, oke! Saya mantaap. Okelah saya harus berani. Harus sampai kapan saya kalah dengan ketakutaan. Hehehe, meskipun saya belum pernah menyetir Kediri-Malang, tapi saya harus beranikan. Saya kemudian berdoa, semoga lancar-lancar saja, jika ada apa-apa semoga teman-teman saya selamat semua. Jujur, emang agak was-was, hehehe. Finally, teman saya menawarkan beberapa mobil dan akhirnya saya memilih avanza. Saya juga belum pernah menyetir mobil sejenis itu. Benar-benar pengalaman pertama dan syukurlah teman-teman mau dijadiin bahan percobaan, hahahaha.

Okay, berangkat dari rumah ke rumah mono tempat berkumpul kami, saya naik sepeda. Wush, karena saya tidak mau telat, saya menggerakkan kaki sekuat tenaga sampai-sampai saya seperti mandi lagi -_- . awalnya ditawarin temen buat jemput, tapi saya ingat pesan kakak tingkat saya, Mbak Mita, buat ngga dibonceng cowo non mahrom atau non keluarga, jadinya mbraniin diri buat olahraga, hahahaha… well, sudah mulai kumpul dan pukul 10.00 kami siap berangkat. Jeng jeeeeengg….

Perjalanan begitu indah. Mobil berisikan sembilan orang. Ada Mono, Rifqi, Mahag, Aul, Prilly, Vania, Wiretno, Adin, dan saya sebagai supir macooo. Bernyanyi, bercerita, tertawa, hingga mengolok-olok aaaahhh, seperti lama ngga saya rasakan semenjak kelulusan SMA. Saya juga tidak tahu, bagaimana saya bisa selepas itu ketika bersama mereka. Seolah-olah memang kami adalah benar-benar kakak-adik atau adik-adik kembar. Ah, tak tahulah, perasaan yang belum saya rasakan dengan siapapun. Lepas dan inilah saya sesungguhnyaa, seorang Betty yang ceria yang ngga pernah peduli sesedih apapun dia, dia tetap TERTAWA!

Perjalanan hanya dipandu dengan GPS ala Rifqi dan papan ijo ijo di jalan. Hahaha, kami hanya di kasih sehelai kertas dengan gambar peta oleh para Sen alias Sen Yunus, Sen Akhib, dan Sen Amik. Dan jujur saja, peta itu tidak jelas, hahahaha… lama juga perjalanan ke Goa Cina. Butuh waktu sekitar 8 jam dari Kediri. Bayangkan! Betapa panasnya bokong Anda. Oiya, saya belum cerita tentang kondisi jalan ya. Kalau kondisi jalan Kediri-Malang memang harus diwaspadai, meski jalan mulus tapi bisa tiba-tiba longsor. Dari Malang menuju Goa Cina, lebih ekstrim lagi menurut saya. Jalannya banyak yang berlubang dan menanjak. Apalagi jalan menuju pantainya itu berupa makadam yang nanjak. Kalau naik mobil harus seimbang antara gas dan kopling. Kalau matik saya tidak tahu karena saya belum pernah nyoba matik, hehehe.

Next, kami langsung cari tempat yang PW. Saya sempet ikut Mas Akhib buat lihat pantai di sisi barat. Idiihh, Allahu Akbar, cakep bangeeet :’). Deburan ombak yang memecah karang ditambah taburan bintang di langit, Ya Allah, saya beruntung di tempat ini. Kemudian kami sholat magrib dan menunggu sholat isya di mushola. Selesai sholat isya, kami membakar ikan dan ketela. Jujur saja, ikannya walau ngga matang-matang amat juga enak kok. Ketelanya juga, walao kegosongan, tetap lezaaaat :3 . Mungkin karena ada bumbu lain? Wkwkwkwk, ya, itu bumbu kebersamaan dan kekeluargaan. Tangan-tangan kami masih istiqomah buat menjamah ikan itu. Si Rifqi ngga mau buat makan ikan itu karena dia tahu, ikannya hamil. Ngga tega katanya, wkwkwkwk, okelah kami yang akhirnya menjamah tubuh ikan yang sudah tak berdaya itu, lebih ganas lagi si Wiretno. Lambat laun, ikan yang gagah itu kini tinggal rangka dan kepala yang tinggal sesisa sebiji jagung mungkin, wkwkwkwk…

Esokan paginya kami benar-benar menikmati pantai. Yang cowo-cowo sudah lupa sama umur dan main air kayak anak kecil. Ya, meskipun saya ngga bisa renang, minimal udah basah lah dari atas sampek bawah. Belajar bikin istana pasir sama Adin, ee, jadinya malah kapal selam. Entahlah kami tidak berbakat. Bener-bener namanya ombak itu saya suka banget. Kau tahu, melihat laut yang begitu luas menyadarkan bahwa ternyata dunia ngga sempit dan ngga pantes buat terkekang dengan memori masa lalu yang pahit dan itu sangat tentram.

Pantai Goa Cina ini recomended banget bagi yang suka jalan-jalan seperti saya. Jujur saja, saya lebih suka tempat yang privat, belum banyak terjamah orang, tidak seperti pantai Prigi, Parangtritis, Popoh, Sanur, Kuta, dan sejenisnya. Airnya yang hijau ditambah gulungan ombak yang besar sungguh merupakan kombinasi yang sempurna. Pasir nya masih bersih, tak ada banyak sampah, bahkan hampir tidak ada sampah. Airnya juga segar, ah, apasih laut yang ngga segarπŸ˜€. Bermain-main pasir pun juga oke. Pokoknya amazing lah buat pantai ini. Puas bermain, kami makan bersama dengan menu mie dan sarden. Tau gga, yang masakin tuh cowo-cowo. Saya sebagai cewe merasa malu ._. . sudah sekian kali kalo camping yang masakin mesti cowo. Sebelum bener-bener cao dari Goa Cina, saya sempet ngadain kursus kilat nyetir mobil buat Mahag. Hahaha, pinter juga ternyata, cepat bisa dia…

Perjalanan pulang pun tak kalah seru. Kondisi badan yang ngantuk membuat saya harus extra konsentrasi. Disempetin mampir di Kedai Assalamu’alayku di depan Unmuh Malang. Kedai ini juga recommended bangeett. Murah, enak, tempatnya nyaman pulak. Hampir sejam makan di sana sambil becanda. Ya, tertawa itu memang enak apapun kondisi hatimu.

Ah, suasana ini, saya akan sangat merindukan. Berlibur dengan keluarga, entah itu keluarga karena darah atau keluarga karena hati adalah hal yang paling menyenangkan :’)

Pantai Goa Cina

Pantai Goa Cina

8 thoughts on “Goa Cina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s