Ketika Itu Hanya Titipan

Sabar, satu kata yang mudah diucapkan namun susah dilaksanain. Ya, bahkan aku harus menahan amarah ketika ngetik ini. Gimana ngga nahan emosi, laptop ini keyboard nya lagi rusak dan aku harus ekstra sabar dan teliti menghapus huruf “w” yang nyelip. Maklum, key huruf “w” eror dan maunya ngeksis mulu. Jadi kalo menemukan huruf “w” di wrong place dalam post ini, aku mohon maaf.

Kali ini aku mau nge share tentang mentoring sore ini. Maaf kalau nantinya agak lebay karena ini aku nulisw sama ndengerin radio yang lagi muterin lagu galau u.u.

Nah, hari ini tuh mbahas tentang titipan. Diawali dari meresapi cerita Ummu Sulaim yang menjadikan Islam sebagai mahar pernikahannya dengan Abu Thalhah. Abu Thalhah adalah seorang kafir sebelum ia akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim. Di buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A. Fillah, diceritakan rumah tangga keduanya diberi cobaan oleh Allah. Anak semata wayang mereka diambil oleh Allah dalam keadaan sakit dan Ummu Sulaim sungguh pintar dalam memaknai arti titipan. Dia tidak sedih, dia tidak galau.

Nah, gimana dengan aku, gimana denganmu, kawan? Aku jujur masih sedih bila aku ingat Allah telah mengambil orang yang kusayangi. Sejujurnya bukan karena aku tidak rela Dia mengambil titipanNya, tapi karena aku tidak ada saat hari-hari mereka.

Pertama, aku tidak ada ketika nenekku dari bapak (yang aku panggil “Mbah”) sadar dari komanya. Beruntungnya ibukku masih bisa bercengkerama dengannya. Kalau aku ingat dan aku tahu bahwa hari Rabu, hari itu, Allah memberi kesempatan seharian buat kami, buat aku untuk berbincang, bercanda bersamanya untuk terakhir kalinya. Kamis, kembali Mbah koma dan aku sepulang sekolah, yang saat itu masa-masa ujian sekolahku, menungguinya dengan resah. Aku takut akan mimpiku. Ya, sebelumnya aku bermimpi sesuatu yang kemudian aku tahu arti mimpi itu apa. Kamis, adzan magrib berkumandang, dan ketakutanku menjadi kenyataan. Selepas bapak, om-omku, dan tetanggaku selesai membaca surah yasin, Mbah meninggal. Hal yang kusayangkan, aku belum bisa memperlihatkan  hafalanku padanya, kepada dia yang selalu menanyakan, “Sudah katam Qurannya?”. Ya Allah, terimakasih dalam tidur malamku kemarin, kau menghadirkan dia.

Kedua, lagi-lagi aku kembali tidak ada dinafas terakhir nenekku dari ibuk (yang aku panggil “Mak”). Aku lupa kenapa waktu itu aku menolak ikut ke rumah sakit buat jaga dia. Aku engga tau kalau itu hari terakhirnya. Sungguh, aku ngga tahu. Terlebih ketika ibuk cerita, akulah satu-satunya cucu perempuan yang dipanggilnya di nafas terakhirnya. Sungguh aku sediih. Aku belum sempat memamerkan masakkanku padanya, kepada orang yang terbaik bikin ayam goreng. Sungguh, ayam goreng Mak ngga ada yang bisa ngalahin, termasuk ibukku sendiri. Begitulah.

Hal lain yang aku berasa belum ikhlas adalah cerita hidup remajaku. Aku kadang menanyakan pada Allah, kenapa Ya Allah aku digariskan seperti ini. Aku tanyakan itu dalam diamku, dalam sholatku, dalam doaku. Sampai sekarang, aku masih begitu. Kemudian, baiknya Allah, Dia selalu kasih jawaban terbaikNya. Sungguh Maha Besar Allah, Maha Suci Allah.

Sharing mentoring hari ini benar-benar bikin aku harus semakin ikhlas dalam hidup ini. Keluargaku, sahabatku, teman-temanku, barangku, hartaku, rasaku, ilmuku, umurku, bahkan diriku, adalah milikNya semua. Ketika Dia mengambil milikNya, harusnya kita ngga marah ya?

 

Nb: Ya Robb, rasaku padaNnya jugalah milikMu. Ikhlaskan aku ketika Kau mengambilnya dan tempatkan rasaku ini kepada orang yang Kau ridho aku menaruhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s