Dolly

Jujur, saya ngga tau judul apa yang pantas dibuat judul, hehehe, maafkan judulnya u.u (isinya juga)

 

Akhir-akhir ini Dolly kembali menarik perhatian banyak orang. Emang dari dulu udah menarik ya kalo bicarain Dolly, hehehe. Becanda, ngga, isu penutupan Dolly kembali muncul dipermukaan, di era pemerintahan wanita super keren (menurut saya) Bu Risma dan Pakde Karwo sebagai Gubernur Jatim.

as we know, Dolly memang lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Jujur, saya belum pernah tau tempat persis Dolly ini di Surabaya bagian mana. Saya jarang sekali menjelajahi Surabaya karena saya tidak pernah betah di sanaπŸ˜€ bawaannya selalu pengen cepet pulaaang mulu. Entah ya, di Surabaya panas sekali soalnya. Saya sempat bercanda dengan mas saya, mungkin karena dosa Surabaya yang punya Dolly itu kali ya yang bikin panas, hehehe. Oke, kembali ke focus. Maaf, saya sering nggladur kalau bahas sesuatu.

Entah kenapa penutupan lokalisasi ini banyak banget yang nolak. Bahkan dari wakil wali kota Surabaya sendiri agaknya kurang setuju dengan penutupan Dolly ini. Tak sedikit pula elite politik juga menolak dan kebanyakan yang menolak itu adalah laki-laki. Lhadalaaah.

By the way, mau sedikit share tentang cerita seseorang yang kuliah di Surabaya. Dia cowo, penasaran dengan Dolly ini. Dia agak takut sepertinya dan dia berlagak seperti orang seadanya, tampang orang mlarat, hehehe. Dia ingin observasi aja bagaimana suasana Dolly itu sendiri. Nah ketika di sana, ternyata dia kagak laku, hahahha. PSKnya (maaf, frontal aja ya) pinter banget, pilih-pilih pasien. Dia pun tahu bahwa di sana yang jadi pasien pun bukan hanya kalangan ecek-ecek, tapi lebih (lebih ancur moralnya maksudnya, hehhee ._.v). dia pun buat lelucon kurang lebih gini, macak seng necis ben iso ngicipi (dandan yang bagus biar bisa incip, sama PSK maksudnya). Dari sini aja bisa diketahui tuh ternyata bobroknya moral ngga kenal kalangan. Astagfirullah.

Balik lagi ke topic penutupan lokalisasi. Menurut saya, kenapa harus ditolak oleh masyarakat Surabaya (maaf jika saya harus meng-generalisasi)? Jika masalah itu mata pencaharian, bukankah masih banyak mata pencaharian di Surabaya yang lebih barokah? Saya tak terhitung ke Surabaya dan saya mengamati karakter orang Surabaya. Keras, pekerja keras, ulet, kreatif, jadi tak ada alasan keterbatasan mata pencaharian. Banyak saya lihat orangtua masih bisa kerja dengan menjual makanan. For your information, jualan makanan di Surabaya itu ngga ada habisnya. Surabaya kota perantauan, Surabaya kota bisnis, kota dagang, kota industry, banyak sekali kesempatan meraih rejeki di sana. Lalu apalagi yang dirisaukan?

Untuk masalah perluasan HIV/AIDS yang tidak terkontrol setelah penutupan, astagfirulah, memang ternyata moral sangat mahal ya. Begitu pesimisnya ternyata dan ketidakpercayaan dari kita sendiri bahwa kita bisa memperbaiki akhlak setelah penutupan itu. Astagfirullah. Sebetulnya dorongan perubahan itu ada dalam diri sendiri. Jika diri sendiri tidak menghendaki taubat, sepertinya akan sulit. Hah, kemudian saya menjadi risau. Bantu hambaMu ini Allah untuk mendidik diri dan keluarga agar seperti yang Kau inginkan.

Okelah, agak lupakan bagian masalah setelah penutupan Dolly di sana, sekarang ganti beralih ke masalah untuk kota tercinta, Kediri.

Tak munafik, Kediri juga punya keles tempat kek gitu (saya ngga bangga T.T) . loh, bukannya Kediri terkenal dengan pesantren Lirboyo dan banyak pesantren lain yang ulama-ulamanya terkenal dan disegani? Yaps, Anda benar, tapi jika Anda mau tahu, Kediri selain punya β€œsurga” juga punya β€œneraka”. Jadi, silakan pilih saja kalau ke Kediri, hehehe.

Lokalisasi Semampir, namanya sudah ngetop dan mungkin bisa di sandingkan dengan nama besar Dolly di Surabaya meski kalah besar sih. Naah, ke khawatiran setelah penutupan Dolly adalah PSK nya sana migrasi ke Semampir. Oh no to the NO. udah hampir bisa ditutup loh di sana. Jangan rusak iman mereka lagi, hehehe.

For your information, untuk kondisi Semampir sendiri sepertinya tidak separah Dolly. Pemberdayaan dari Dinas Sosial Kediri menurut saya juga lumayan bagus meski tidak bisa seluruhnya memberantas. Kalau boleh saya cerita tentang obeservasi siswa KTI salah satu MAN di Kediri, sebut saja MAN 3 Kediri (loh sebut merk), di sana tuh PSK nya istilahnya STMJ, Sholat Terus Maksiat Jalan. Mereka secara nurani tahu bahwa itu salah dan menyalahi agama, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak dengan nafsu dan tuntutan hidup. Lamban laun juga karena peran Dinsos Kediri, mereka juga tak sedikit yang mundur dan taubat, hehehe. Mereka juga cerita ketika observasi, kejadian lucu dan miris adalah ketika anak-anak kecil mengaji sedangkan anak-anak besar (ngga tau kudu pakek kata apa :D) sedang β€œbegitu”. Kontras, miris. Loh kok jadi cerita Semampir. Hehehehe, tak apa, kan setipeπŸ˜€ .

Oke, konklusinya adalah saya mendukung penutupan Dolly. Penanggulangan masalah setelah penutupan sebenarnya udah ada lah dari pemerintah karena usulan penutupan ini sendiri udah jauh-jauh tahun yang lalu, sekitar 2010 if I’m not mistaken.

Dari sini juga bisa ambil pelajaran, ternyata pendidikan moral itu penting banget, terutama pendidikan agama. Seperti menampar saya, β€œHEI, BET! KAU HARUS FOKUS MENDIDIK ANAK-ANAKMU!” ya, tanggung jawab saya J semangat! Mengejar dunia tak akan pernah membuat puas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s