Jalan Pulang

Ijinkan saya membuka post ini dengan sepenggal cerita pribadi saya hari ini.

Jumat, 21 November 2014, hari saya dimulai dengan β€œsesuatu yang kering”. Hari ini mungkin adalah puncak dari kekeringan saya yang saya alami akhir-akhir ini. Manusia, dia mempunyai siklus kondisi β€œruh” nya, seperti sebuah titik pada roda yang sedang berputar. Roda itu terus berputar seiring jalannya waktu dan membuat titik itu menjadi terkadang berada di bawah, di atas, ataupun diantara keduanya. Sama, saya seorang manusia dan saya mengalami hal seperti itu, kondisi β€œruh” yang terus berputar.

Suatu hari, seorang mubaligh mengingatkan saya di suatu majelis ilmu, beginilah kurang lebih katanya,”Jika ditelisik dari sejarah penciptaan manusia, sebenarnya kita ini adalah penduduk surga. Nabi Adam dan Bunda Hawa diciptakan dan tinggal di surga sebelum beliau diturunkan ke bumi oleh Allah karena terbujuk oleh iblis. Jadi sebenarnya asal kita adalah surga. Kita di dunia ini hanyalah sekedar mampir minum, seperti kata Rosulullah.”

Surga, itulah asal kita, itulah rumah kita sesungguhnya. Ke sanalah layaknya kita pulang.

Ada kisah tentang seorang ukhti yang dulunya pernah tinggal di asrama yang saya tempati sekarang. Beliau diberi β€œkelebihan” oleh Allah berupa gangguan pada kemampuan kognitifnya. Singkat cerita, beliau selalu kesulitan untuk menghafal jalan pulang ke asrama. Suatu hari beliau mengantar temannya untuk pulang ke kos. Tetapi yang terjadi adalah beliau tidak melewati jalan yang seharusnya mengantarkan pada tujuannya. Hingga beliau diingatkan oleh temannya. Bayangan beliau adalah β€œkos temannya”, tetapi jalannya β€œkabur”.

Mungkin, fenomena itu juga terjadi tidak jauh dari kita. Bisa jadi bayangan kita tentang surga, asal kita, begitu jelas. Tetapi terkadang kita tersesat untuk pulang. Terlalu banyak simpangan sehingga kita bingung, jalan mana yang akan mengantar ke rumah? Belok kirikah? Belok kanankah? Ataukah lurus saja? Sesungguhnya kita tahu jalan mana yang mengantarkan kita pulang. Setidaknya, seorang muslim minimal sepuluh kali mengucapkannya dalam sehari, β€œShiroothol mustaqiim” (QS. Al Fatihah: 06), yaitu jalan yang lurus.

Simpangan-simpangan itu mempunyai hal yang menggoda untuk disinggahi hingga membuat kita lupa bahwa kita harusnya hanya lurus saja untuk segera sampai di rumah. Tetapi terkadang kita berbelok ke sana, untuk sekedar melihat ada apakah di sana? Namun, yakinkah kita hanya menengok saja? Ataukah pada akhirnya kita tergoda untuk tinggal? Hingga kita menjadi jauh dari jalan pulang dan lupa akan rumah kita.

Jalan yang lurus terkadang membuat kita jenuh. Seperti halnya ketika saya ingin pergi ke Pantai Parangtritis. Jujur saja, saya merasa jenuh dengan jalan yang hanya lurus saja. Tetapi jika ingat bahwa di ujung jalan sana ada pantai yang indah, saya terpacu untuk menambah kecepatan kendaraan saya agar cepat sampai di sana dan menikmati keindahannya. Pun demikian yang harusnya kita lakukan ketika kita merasa jenuh dengan jalan pulang kita. Ingatlah, bahwa di ujung jalan sana, ada seseorang dengan segala keindahan dan kemuliaan yang dia miliki sedang menunggu kita dengan penuh cinta. Dia yang selalu membangga-banggakan umatnya di hadapan para utusan lainnya. Dialah yang mencintai kita, manusia yang belum pernah sekalipun bertemu dengannya tetapi mengikuti jalannya (Al Hadist).

Tutuplah mata antum sejenak. Tanyakan pada diri antum, apakah saya masih berada di jalan pulang? Ataukah saya telah belok ketika dipersimpangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s