Merajut Harapan

Pemira telah usai. Hegemoni demokrasi kampus telah usai. Hiruk pikuk kampus telah usai. Ah, damai, tentram. Seperti hidup di sebuah desa dengan pepohonan rindang yang menjulang tinggi. Terhampar sawah-sawah menghijau. Sayup-sayup senandung petani ditambah gemercik air dan kicauan burung, aduhai merdunya. Begitulah sepertinya. Suasana yang dirindukan jiwa perindu kesejukan.

Terpilihlah kalian, petinggi-petinggi lembaga kemahasiswaan. Nakhoda kapal yang entah akan berlayar ke mana. Mungkin ada yang sedih, ada yang yang bahagia. Ada yang bangga, ada yang merasa kerdil. Begitulah. Sungguh, amanah itu berat sekali.

Pemimpin, representasi apa yang dia pimpin. Begitulah kalimat sering muncul mewarnai hari-hari pemira yang menyedihkan, bagiku. Banyak intrik, banyak kepalsuan. Entahlah. Hingga memilih kabur adalah mungkin keputusan yang rasional, tetapi cukup menyedihkan. Mengaku bahwa bagian dari mereka, tetapi beban seberat biji zarrah tentangnya pun tak mau memikulnya. Ah, masihkah layak disebut bagian? Entahlah.

Yang dipimpin akan menuntut banyak dari yang memimpin. Rasional jika yang dipimpin akan meminta pemimpin yang ideal. Penyayang seperti Abu Bakr, tegas seperti Umar, lemah lembut seperti Ustman, dan cerdas seperti Ali. Padahal sadar atau tidak, empat kepribadian itu tak akan sanggup dirangkum dengan utuh dalam satu jasad.

Sebuah bangunan tak akan mampu berdiri hanya dengan satu penyangga. Mobil pun tak akan sanggup berjalan hanya dengan satu roda. Dan tulisan ini pun tak akan menjadi bacaan hanya disusun dengan satu huruf. Pun begitu dengan lembaga, ia tak akan mampu hidup dengan satu nafas. Lembaga bukan hanya berbicara tentang pemimpin, tetapi juga tentang yang dipimpin.

Pelangi tersusun dari berbagai warna. Jika ia diputar, bergerak bersama, seperti percobaan IPA anak SD, lingkaran spektrum warna, ia akan menjadi putih, bersih, dan suci. Begitu halnya dengan lembaga. Lembaga terisi dari berbagai latar belakang, berbagai warna kepribadian hingga tersusunlah pelangi di dalamnya. Pelangi itu akan berubah menjadi cahaya putih yang bersih, bersinar dengan indah diantara cahaya-cahaya lain. Menciptakan nuansa yang tak dapat terucapkan oleh lisan, tetapi ketentramannya dapat dirasakan oleh hati.

Ya, begitulah lembaga. Muncul harapan, cahaya itu, warna-warni pelangi yang telah menyatu menjadi sinar putih itu tercipta dari sudut ruangan paling barat Sayap Utara Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Cahaya yang akan menerangi dan menghangatkan. Cahaya yang akan menentramkan setiap jiwa yang merasakannya. Cahaya itu akan tercipta, insyaAllah, jika warna-warni pelangi itu bergerak bersama. Dan warna-warni pelangi itu adalah kita.

“Jazakillah khoir untuk Ade Septin atas usulan judul post ini”

Β 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s